HIJRAH
HABASYAH dan HIJRAH THA’IF
Makalah ini
disusun guna memenuhi Tugas UAS Kelompok Mata Kuliah Sirah Nabawiyah
Dosen pengampu :
Imamul Huda,
M.Pdi.

Disusun
oleh:
Holifatus Sakdiyah 23010160129
Nur Indah Wulandari 23010160107
Ani Fitriani 23010160124
Ani Khudhoefiyah 23010160118
Zein Chairul Mahfiz 23010160114
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
SALATIGA
2016
KATA
PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah swt karena berkat rahmat,
karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah dengan
judul Hijrah Habasyah dan Hijrah Tha’if ini dengan baik meskipun banyak kekurangan
didalamnya. Dan juga kami berterima kasih pada Bapak Imamul Huda, M. Pd.I. selaku Dosen mata
kuliah Sirah Nabawiyah yang telah memberikan tugas ini kepada kami.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah
wawasan serta pengetahuan kita mengenai Hijrah Habasyah dan Hijrah Tha’if. kami
juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan
jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran dan
usulan demi perbaikan makalah yang telah kami buat di masa yang akan datang,
mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun. Semoga
makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya.
Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi diri kami sendiri
maupun orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat
kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang
membangun dari Anda demi perbaikan makalah ini di waktu yang akan datang.
Salatiga, 17 November
2016
DAFTAR
ISI
LEMBAR
JUDUL………………………………………………………..
KATA PENGANTAR…………………………………………………… i
DAFTAR ISI…………………………………………………………….. ii
BAB I PENDAHULUAN……………………………………………….. 1
A. Latar
belakang……………………………………………….. 1
B.
Rumusan masalah……………………………………………. 1
C. Tujuan……………………………………………………….. 2
BAB II PEMBAHASAN………………………………………………… 3
BAB III PENUTUP……………………………………………………… 20
A.
Kesimpulan…………………………………………………... 20
B. Saran…………………………………………………………. 21
DAFTAR
PUSTAKA……………………………………………………. 22
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Sudah beberapa kali Rasulullah melakukan hijrah guna untuk menyerukan
ajaran agama Islam. Beliau melakukan dakwah karena wahyu dari Allah SWT. Dakwah
yang dilakukan beliau secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Awal mula Rasulullah menerima wahyu,
Rasulullah hanya melakukan dakwah secara sembunyi karena belum memiliki
keberanian untuk segera menyerukan agama Allah SWT. Kasar dan kerasnya watak
masyarakat Arab merupakan salah satu contoh sebab Rasulullah melakukan dakwah
secara sembunyi-sembunyi.
Setelah memperoleh beberapa wahyu, Rasulullah mulai berani melakukan
dakwah secara terang-terangan. Dari negeri ke negeri. Rasulullah berjuang
menyebarkan agama Islam, ajaran yang lurus. Dakwah yang dilakukan Rasulullah dilakukan
dengan cara yang bermacam-macam. Namun, kami hanya akan membahas dua dari
sekian banyak dakwah yang dilakukan Rasulullah. Hijrah ke Habsyah dan Thaif
merupakan salah satu contoh Rasulullah melakukan dakwahnya. Habsyah dan Thaif
merupakan negara yang diperebutkan kaum Quraisy agar dapat dikuasainya. Habsyah
dan Thaif juga termasuk negeri yang begitu subur, karenanya Rasulullah
melakukan dakwah di dua negeri tersebut Selain itu, ada beberapa hal menarik
yang dapat diambil hikmahnya dalam mempelajari hijrah Rasulullah Saw ke Habsyah
dan Thaif.
B.
Rumusan
Masalah
1. Bagaimana
peristiwa yang terjadi pada waktu Rasulullah Hijrah ke Habasyah?
2. Apakah penduduk Habasyah menerima kedatangan umat muslim?
3. Mengapa
Rasulullah berhijrah ke Thaif?
4. Apakah
penduduk Thaif menerima kedatangan Rasulullah SAW?
5. Contoh
keteladanan apa saja yang dapat diambil dari peristiwa hijrah ke Habasyah dan Thaif?
C. Tujuan
1.
Untuk mengetahui peristiwa-peristiwa yang terjadi ketika sebagian umat
muslim pada saat itu berhijrah ke Habasyah.
2.
Untuk mengetahui sikap penduduk Habasyah terhadap kaum muslim.
3.
Untuk mengetahui sebab Rasulullah melakukan hijrah ke Thaif.
4.
Untuk mengetahui sikap penduduk Thaif terhadap Rasulullah.
5.
Untuk mengetahui pelajaran yang dapat diambil terutama keteladanan akhlak
Rasulullah.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Hijrah Pertama ke Habasyah
Tekanan dan siksaan
terjadi sejak pertengahan atau akhir tahun keempat dari kenabian. Pada awalnya,
tekanan dan siksaan itu tidak begitu keras, tetapi dari hari ke hari, tekanan
dan siksaan tersebut semakin menjadi-jadi dan semakin kejam. Sampai puncaknya
sekitar pertengahan tahun ke-5 sehingga mereka tidak bisa hidup tenang di kota
Mekah sehingga perlu dipikirkan jalan agar mereka dapat terlepas dari pedihnya
siksaan dan dari beratnya tekanan Kafir Quraisy. Dalam kondisi ini, turunlah
sebuah ayat yang memerintahkan untuk melakukan hijrah sebab bumi Allah ini
tidaklah sempit, ayat tersebut berbunyi :[1]
قُلْ
يَا عِبَادِ الَّذِينَ آمَنُوااتَّقُوا رَبَّكُمْۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي
هَٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗ وَأَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةٌ ۗ إِنَّمَا يُوَفَّى
الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
Artinya
:
Katakanlah: "Hai
hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu". Orang-orang yang
berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas.
Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka
tanpa batas.(Q.S Az-Zumar:10)[2]
Pada saat itu
Rasulullah saw. menyaksikan bencana yang menimpa para pengikutnya, sedangkan
beliau tidak mampu melindungi mereka. Maka beliau berkata kepada
mereka,“Sebaiknya kalian pergi ke Habasyah karena di sana ada seorang raja yang
adil sekali. Di dalam kekuasaannya tidak seorang pun boleh dianiaya, di sana
adalah bumi kejujuran. Sampai Allah memberikan jalan keluar kepada kalian.”[3]
Sebelum
Rasulullah saw. berkata seperti itu, Rasulullah saw. sendiri sudah mengetahui
sifat Raja Ashamah an-Najasyi di Habasyah. Raja Ashamah an-Najasyi adalah raja
yang adil dan tidak menyukai kezaliman terhadap siapa pun, maka beliau memerintahkan
kaum Muslimin agar hijrah ke Habasyah. Untuk menghindari dari fitnah.
Kemudian, pada
bulan Rajab tahun ke-5 dari kenabian, kelompok pertama dari para sahabat hijrah
ke Habasyah. Jumlah mereka sekitar 12 orang laki-laki dan 4 orang perempuan.
Hijrah ini dipimpin oleh Utsman bin Affan disertai oleh istrinya Ruqayyah binti
Muhammad saw. Rasulullah berkata tentang mereka berdua “ Keduanya adalah orang
pertama dari penduduk Bitul Haram yang hijrah di jalan Allah setelah hijrahnya
Nabi Ibrahim dan Nabi Luth a.s.”
Perjalanan dilakukan
dengan mengendap-endap di tengah gelapnya malam. Agar mereka tidak dipergoki
oleh Kafir Quraisy. Secara kebetulan, ketika mereka sampai di pelabuhan
Syaibah, ada 2 kapal yang akan bertolak menuju Habasyah. Dengan kedua kapal ini,
mereka pergi ke sana. Orang-orang Quraisy mengetahui kepergian mereka, dengan
segera mereka mengejar, tetapi ketika sampai di pantai kaum Muslimin telah
berlayar. Akhirnya, mereka sampai di Habasyah dan diterima secara baik.[4]
Kisah
Sujudnya Kaum Musyrikin Bersama-sama Kaum Muslimin Dan Kembalinya Para Sahabat
yang Berhijrah
Pada bulan ramadhan ditahun yang sama,
rasulullah SAW pergi ke masjidil haram. Disana banyak berkumpul kaum Quraisy,
terdiri dari para pemuka dan tokoh-tokoh mereka. Beliau Rasulullah SAW kemudian
berdiri di tengah mereka dan mndadak surat An-Najm orang-orang Kafir tersebut,
sebelumnya tidak pernah mendengarkan Kalamullah secara langsung, karena program
yang mereka ancarkan secara kontinyu adalah melakukan apa yag saling mereka [5]nasihatkan
satu sama lain. Sebagaimana diabadikan oleh Allah dalam firman-Nya,
“… janganlah
kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan Al-Qur’an ini dan buatlah hiruk
pikuk terhadapnya supaya kamu dapat mengalahkan ( mereka ).” Q.S. Fusshilat :
26.
Maka, manakala
mereka mendadak, beliau membacakan surat tersebut kepada mereka dan kalami
ilahi yang demikian indah menawan yagn tidak dapat dilupakan dengan kata-kata
keindahan dan sempat mengetuk gendang telinga mereka, maka seakan mereka
mengesampingkan apa yang selama ini mereka lakukan dan setiap orang
terkonsentrasi untuk mendengarkannya sehingga tidak ada yang terlintas di
hatinya selain kalam itu. Lalu sampailah beliau pada akhir surat ini, berupa
ketukan-ketukan yang membawa hati seakan terbang melayang beliau membaca
firman-Nya,
“ Maka bersujudlah kepada Allah dan
sembahlah dia.” Q.S. An-Najm:62.
Kemudian beliau
pun sujud. Melihat peandangan itu, tak seorang pun dari mereka yang dapat
menahan dirinya untuk tidak sujud, sehingga mereka pun sujud bersama beliau.
Sebenarnya, keindah menawanan al-haq
telah meluluhlantakan kebatuan yang meliputi jiwa kaum yang takabur dan suka
mengejek, mereka semua tak sanggup menahannya bahkan bersimpuh sujud kepada
Allah.
Mereka linglung
dan tak tahu harus berbuat aa, manakala keagungan kalamullah telah melintir kendali yang selama ini yang mereka
pegang sehingga membuat mereka melakukan sesuatu yang selama ini justru dengan
susah payah berusaha mereka hapus dan leyapkan. Kejadian tersebut mendapatkan
kecaman dari teman-teman mereka yang tidak sempat hadir ketika itu. Maka,
mereka mersa inilah momen bagi mereka untuk mendustakan Rasulullah SAW dengan
membalikan fakta yang sebenarnya, bahwa[6]yang
terjadi adalah beliau mengungkapkan kata-kata penghormatan terhadap
berhala-hala, yaitu beliau mengatakan “Itulah Al-Gharaniq yang mulia, yang
syafa’atnya selalu diharap-harapkan.”
Isu ini mereka
gembar-gemborkan agar dapat menjadi alasan sujud mereka bersama nabi SAW ketika
itu. Tentunya, hal ini tidak mengherankan sekali sebab sumbernya adalah dari
orang yang selama ini pekerjaannya suka mengarang-ngarang dusta serta
menghembuskan isu.
Berita tersebut
(tentang sujud kaum Quraisy, pent.) sampai ketelinga kaum muslimin yang
berhijrah di Habasyah akan tetapi versi beritanya sangat bertentangan dengan
realitas yang sebenarnya. Yaitu, yang sampai kepada mereka bahwa kaum Quraisy
telah masuk Islam. Oleh karena itu, mereka pun kembali ke Mekkah pada bulan
Syawal di tahun yang sama, namun ketika mereka berada di tempat yang tidak
berapa jauh dari Mekkah, yaitu sesaat di waktu siang, dan mereka akhirnya
mengetahui duduk persoalannya, sebagian mereka ada yang kembali ke Habasyah
sedangkan sebgian yang lain ada yang memasuki Mekkah secara diam-diam atau
berlindung di bawah jaminan salah tokoh Quraisy.[7]
Kembali lagi ke Habasyah
Kabar tentang
kejadian ini tersebar hingga terdengar oleh kaum Muslimin yang berada di
Habasyah. Tetapi, kabar yang sampai tidak sepenuhnya benar. Yang mereka dengar
adalah bahwa kaum Kafir Quraisy telah masuk Islam dan sujud bersama Rasulullah
saw, maka mereka semua kembali ke Mekah pada bulan Syawal tahun yang sama.
Mereka hampir mendekati Mekah pada saat tengah hari, saat itulah mereka tahu
apa yang sebenarnya terjadi. Sebagian mereka ada yang kembali ke Habasyah,
sebagian lagi tetap masuk ke kota Mekah dengan cara bersembunyi dan berlindung
di rumah orang Quraisy.
Sejak saat itu,
penindasan dan siksaan semakin gencar dan kejam dilancarkan oleh Kafir Quraisy.
Orang Kafir Quraisy merasa disulitkan oleh sikap Raja Najasyi yang baik, maka
Rasulullah saw. tidak melihat jalan lain, kecuali memerintahkan kaum Muslimin
untuk hijrah yang ke-2 kalinya ke Habasyah.[8]
B.
Hijrah
Kedua ke Habasyah
Kaum Muslimin
bersiap-siap berangkat hijrah kembali ke Habasyah untuk yang kedua kalinya.
Hijrah kali ini, lebih sulit jika dibanding dengan yang pertama sebab Kafir
Quraisy sudah mulai waspada dengan langkah kaum Muslimin dan mereka sudah siap
untuk menggagalkannya. Kaum Muslimin pun bergerak lebih cepat. Dengan
pertolongan Allah yang melapangkan jalan mereka, akhirnya mereka dapat pergi
sebelum dipergoki oleh Kafir Quraisy.
Hijrah yang kedua
ini diikuti 83 orang laki-laki dan 18 atau 19 orang perempuan.[9]
Kaum Quraisy mencari-cari Kesalahan Umat Islam
Ketika kaum
Quraisy mengetahui bahwa mereka yang beriman telah mendapatkan ketentraman di
negeri Habasyah, mereka mengutus ‘Abdullah bin Abu Rabi’ah dan ‘Amr bin al-‘Ash
bin Wa’il. Mereka menyertakan pada keduanya, hadiah-hadiah untuk Raja Najasyi
(Negus) dan para panglima perangnya, yaitu berupa benda-benda berharga produksi
Makkah.
Kedua utusan
Quraisy itu mempersembahkan hadiah kepada Raja Najasyi. Mereka membujuk para
panglima dan membuat mereka senang dengan hadiah-hadiah tersebut. [10]
“Paduka Raja,”
kata mereka, “ Mereka yang datang ke negeri Paduka ini adalah budak-budak kami
yang tidak punya malu. Mereka meninggalkan agama bangsanya dan tidak pula
menganut agama Paduka, mereka membawa agama yang mereka ciptakan sendiri, yang
tidak kami kenal dan tidak juga Paduka. Kami diutus kepada Paduka oleh
pemimpin-pemimpin masyarakat mereka, orang-orang tua mereka, paman-paman mereka
dan keluarga mereka sendiri, supaya Paduka sudi mengembalikan orang-orang itu
mencemarkan dan mencerca agama mereka.”
Sebenarnya kedua
utusan itu telah mengadakan persetujuan dengan para pemuka agama kerajaan, setelah
mereka menerima hadiah-hadiah dari penduduk Mekah, bahwa mereka akan membantu
usaha mengembalikan Muslimin itu kepada pihak Quraisy. Pembicaraan mereka ini
tidak sampai diketahui Raja. Tetapi baginda menolak sebelum mendengar sendiri
keterangan dari pihak Muslimin. Lalu mereka diminta menghadap Raja.
“ Agama apa ini
yang sampai membuat Tuan-tuan meninggalkan masyarakat Tuan-tuan sendiri, tetapi
tidak juga agama kami, atau agama lain?” tanya Raja Najasyi setelah mereka
datang.[11]
Uraian Ja’far bin Abi Thalib tentang Jahiliyah dan
Islam
Ja’far bin Abi
Thalib yang merupakan saudara sepupu Rasulullah saw. berdiri. Ia berkata kepada
Raja Najasyi, “ Wahai Raja! Dahulu kami adalah kaum jahiliyah. Kami menyembah
berhala dan memakai bangkai. Kami juga melakukan perbuatan keji dan memutuskan
hubungan silaturahmi. Orang yang kuat diantara kami memangsa yang lemah. Kami
dahulu seperti itu hingga Allah mengutus kepada kami, seorang Rasul yang kami
kenal garis keturunannya, kebenaran, kejujuran dan kesuciannya. Ia mengajak
kami untuk mengesakan Allah dan menyembah-Nya, meninggalkan apa yang dahulu
kami sembah dan disembah oleh nenek moyang kami yakni batu dan patung kayu.
“Ia
memerintahkan kami untuk berkata jujur, melaksanakan amanah, menyambung
hubungan kekeluargaan, bersikap baik kepada tetangga, menjaga kehormatan dan
menghentikan pertumphan darah. Ia melarang kami melakukan perbuatan keji,
mengucapkan sumpah palsu, memakan harta anak yatim dan menuduh berzina kepada
perempuan yang baik-baik.”[12]
“Ia memerintahkan
kami untuk menyembah Allah sebagai satu-satunya tuhan, tidak menyekutukan-Nya
dengan apa pun. Ia memerintahkan kami untuk mengerjakan shalat, menunaikan
zakat dan berpuasa....” Lalu Ja’far menyebutkan ajaran Islam yang lainnya. “Maka kami
mempercayainya dan kami beriman kepadanya. Kami mengikuti apa yang dibawanya
dari Allah. Kami menyembah Allah sebagai satu-satunya Tuhan, tidak
menyekutukan-Nya dengan apa pun. Kami mengharamkan apa yang diharamkan atas
kami dan kami menghalalkan apa yang dihalalkan untuk kami.”
“ Maka kaum kami
memusuhi kami. Mereka menyiksa kami. Mereka membujuk dan memaksa kami untuk
meninggalkan agama kami dan kembali kepada penyembahan berhala dari penyembahan
kepada Allah Yang Maha Tinggi dan agar kami menghalalkan perbuatan tercela yang
dahulu (pada masa jahiliyah) kami halalkan.”
“Ketika mereka
memaksa kami, menganiaya kami, mempersulit kami dan menghalangi kami dari agama
kami, maka kami pergi dari negeri kami. Kami memilih engkau dan kami merasa
senang berada di dekatmu. Kami berharap agar kami tidak dianiaya di sisimu,
wahai Raja!”
Raja Najasyi
mendengarkan semua itu dengan tenang dan diam.[13]
Kemudian ia bertanya, ”Adakah ajaran Tuhan yang dibawanya itu yang dapat Tuan-tuan
bacakan kepada kami?”. “Ya”, jawab Ja’far, lalu ia membacakan Surah Maryam dari
permulaan sampai pada firman Allah yang berbunyi dalam Q.S. Maryam : 29 – 33
yan berbunyi,[14]
Artinya : “Tetapi
dia menunjuk kepada bayinya. Merka berkata, “Bagaimana kami akan berbicara
dengan anak yang masih dalam buaian? “ Dia (Isa) berkata, “Aku sungguh hamba
Allah, memberikan wahyu kepadaku dan Dia menjadikan aku seorang nabi. Dan dia
memberi berkat kepadaku dimana pun aku beradad dan memerintahkan kepadaku
mendirikan shalat dan mengeluarkan zakat selama aku masih hidup. Dan ia
menjadikan aku berbakti kepada ibuku dan tidak menjadikan sewenang-wenang dan
durhaka. Salam sejahtera bagiku, tatkala aku dilahirkan, tatkala aku mati dan
tatkala aku dibangkitkan hidup kembali.” (Q.S. Maryam :29-33)
Setelah
mendengar bahwa keterangan itu membenarkan apa yang tersebut dalam injil,
pemuka-pemuka agama itu terkejut, “ Kata-kata yang keluar dari sumber yang sama
seperti yang dikeluarkan Yesus Kristus,” kata mereka.
Raja Najasyi
berkata, “ Kata-kata ini dan yang dibawa oleh Musa, keluar dari sumber cahaya
yang sama. Tuan-tuan (kepada kedua orang utusan Quraisy) pergilah. Kami tak
akan menyerahkan mereka kepada Tuan-tuan!”
Keesokan harinya
‘Amr bin al-As kembali menghadapi Raja dengan mengatakan, bahwa Muslimin
mengeluarkan tuduhan yang luar biasa terhadap Isa anak Maryam. Panggilah mereka
dan tanyakan apa yang mereka katakan itu.
Setelah mereka
datang, Ja’far berkata, “ Tentang dia pendapat kami seperti yang dikatakan Nabi
kami. Dia adalah hamba Allah dan utusan-Nya, Roh-Nya dan Firman-Nya yang
disampaikan kepada Perawan Maryam.”
Raja Najasyi
mengambil sebatang tongkat dan menggoreskannya di tanah. Dan dengan gembira
sekali Baginda berkata, “ Antara agama Tuan-tuan dengan agama kami sebenarnya
tidak lebih dari garis ini.”
Setelah dari
kedua belah pihak didengarnya Raja Najasyi melihat, bahwa Muslimin itu mengakui
Isa, mengenal agama Nasrani dan menyembah Allah.[15]
Raja Najasyi
mengembalikan umat islam dengan penuh penghormatan ke tempat mereka, menjaga
keamanan mereka dan memerintahkan untuk mengembalikan hadiah kedua utusan kaum Quraisy.
Kedua utusan tersebut pergi dari sisinya dalam keadaan tercela. Maka umat islam
pun tinggal di tempat yang paling baik dengan tetangga yang sangat baik pula.
Saat itu Raja
Najasyi diserang musuhnya, maka umat Islam yang berhijrah ke Habasyah
membantunya, sebagai pengakuan atas kebaikan sikapnya kepada orang-orang
tertindas yang berhijrah ke sana dan sebagai balasan atas kebaikannya. Hal ini
sesuai dengan ajaran-ajaran moral dalam Islam dan sesuai dengan akhlak umat
Islam.
Hijrah ke
Habasyah terjadi pada tahun ke-5 sesudah kenabian. Ja'far bin Abi Thalib dan
sejumlah sahabat menetap di sana hingga tahun ke-7 Hijrah. Ja'far bin Abi
Thalib menemui Rasulullah saw. pada perang Khaibar. Jadi, mereka tinggal di
Habasyah selama 15 tahun. Itu adalah waktu yang lama. Mestinya Ja'far telah
mendapatkan hasil dalam dakwah Islam dan telah mendapatkan pengakuan di negeri
yang lebih unggul dibandingkan negeri-negeri Kristen lainnya dalam hal toleransi
dan perlindungan orang-orang yang tertindas. Pemerintahnya mengetahui dengan
baik tentang keadilan dan kemanusiaan. Akan tetapi tidak ada dokumen sejarah
yang memperkuat hal tersebut. Namun demikian, hal itu dapat dilakukan dengan
metode Qiyas atau analogi sejarah.[16]
Setelah
peristiwa tersebut. Umat Islam menjadi merasa kuat ketika ‘Umar masuk Islam.
Apalagi sebelumnya Hamzah juga telah masuk Islam. Mereka mengetahui pengaruh
Islamnya ‘Umar bagi orang-orang kafir dari kalangan Quraisy dan dalam sistem
kehidupan di Makkah. Mereka[17]
tidak keliru. Sebab orang-orang musyrik tidak merasa berat dengan Islamnya
seseorang dan tidak memperhitungkannya. Berbeda dengan yang mereka rasakan dan
perhitungkan dengan Islamnya ‘Umar ra.
‘Umar mengumumkan
keislamannya. Hal itu tersebar di kalangan Quraisy. Mereka menantangnya
berkelahi dan ‘Umar pun memenangkan perkelahian tersebut hingga mereka putus
asa.[18]
Keadaan Nabi Muhammad SAW. Selama Diboikot
Selama
pemboikotan yang berlangsung kurang lebih tiga tahun, Rasulullah dan kaum keluarganya
serta kaum muslimin yang tidak ikut ke negeri Habasyah mengalami berbagai kesulitan dan
kesengsaraan dalam hidupnya. Pada masa pemboikotan mereka hanya memakan apa
saja yang didapat dan berpakaian apa saja yang dapat dikenakan.
Inilah kesengsaraan dan
kemiskinan yang diderita Rasulullah dan kaum muslimin pada masa itu. Sungguh
pun demikian, Rasulullah dan segenap kaum muslimin tetap tenang serta teguh
mengerjakan perintah-perintah Allah.[19]
Cerita tentang rusaknya lembar pengumuman
Dalam masalah
pembuatan dan pemasangan lembar pengumuman
aksi pemboikotan ini menjadi pro kontra di kalangan kaum kafir Quraisy.
Pihak yang kontra berusaha untuk merobeknya.
Selanjutnya,
Allah memperlihatkan kepada Rasul-Nya atas nasib lembar pengumuman aksi
pemboikotan yang dilakukan kaum Quraisy. Allah mengirim rayap untuk memakannya
berikut semua tulisan yang berisi kedzaliman kecuali tulisan yang yang menyebut
nama Allah.
Rasulullah
memberitahukan hal tersebut kepada pamannya
yaitu Abu Tholib. Abu Tholib langsung menemui para pemuka kaum Quraisy
dan berkata, “Jika ia dusta, aku akan menyerahkan ia (Muhammad) kepada kalian.
Terserah mu apakan ia. Dan jika ia benar, kalian harus menghentikan tindakan
kalian yang jahat dan semena-mena ini.”
Mereka setuju, kemudian
menurunkan lembar pengumuman pemboikotan tersebut. Begitu dilihat ternyata
memang benar apa yang dikatakan Rasulullah. Tetapi mereka justru bertambah
kufur.
C.
HIJRAH
KE THAIF
Peristiwa hijrah
Nabi Muhammad ke Thaif terjadi pada tahun ke-10 Kenabian ketika para ketua dan
pembesar musyrikin Quraisy menyadari bahwa Nabi tidak mempunyai tulang punggung
yang dapat melindungi beliau apabila disakiti dan dianiaya atau diperlakukan
dengan kejam karena orang yang beliau sayangi dan kasihi telah meninggal dunia,
yaitu Abu Thalib dan Khadijah sehingga disebut tahun kesedihan (Ammul Huzni),
maka mereka semakin menghalangi dan memusuhi beliau. Setiap hari, siang dan
malam, beliau tidak henti-henti menerima celaan,cercaan, penghinaan, dan
perbuatan yang menyakitkan dari para musyrikin Quraisy. Oleh sebab itu,
teringat oleh beliau bahwa di kota Thaif ada seorang yang masih termasuk
keluarga dekat beliau dari keturunan Tsaqif. Di kota Thaif, merekalah yang
memegang kekuasaan. Ketika itu tinggal tiga orang, yaitu: Kinanah yang bergelar
Abdu Jaffi, Mas’ud yang bergelar Abdul Kulal, dan Habib. Ketiganya adalah anak
dari Amr bin Umair bin Auf ats-Tsaqafi dan masing-masing memegang kekuasaan di
kota Thaif.
Nabi Muhammad
memilih Thaif karena Thaif adalah wilayah yang sangat strategis bagi masyarakat
Quraisy. Bahkan kaum Quraisy sangat menginginkan wilayah tersebut dapat mereka
kuasai. Sebelumnya mereka telah mencoba untuk melakukan hal itu. Bahkan mereka
melompat ke lembah Wajj. Hal demikian lantaran Thaif memiliki sumber daya
pertanian yang sangat kaya. Hingga akhirnya orang-orang Tsaqif takut kepada
mereka dan mau bersekutu dengan mereka. Bergabung pula bersama mereka Bani
Daus.[20]
Tidak sedikit dari orang-orang kaya di Makkah yang memiliki simpanan harta di
Thaif. Disana juga mereka mengisi waktu-waktu rehat pada musim panas. Adapun
Kabilah Bani Hasyim dan Abdu Syam senantiasa menjalin komunikasi baik dengan
orang-orang Thaif. Pergerakan dakwah yang penuh strategi yang dijalankan oleh
Rasulullah ini sebagai bentuk upaya beliau, antusias beliau, untuk mendirikan
negara Islam tangguh yang sanggup bertahan dalam arena pertarungan. Karena,
sesungguhnya suatu negara yang kuat merupakan fasilitas dakwah yang teramat
penting dan utama. Maka tatkala beliau tiba di Thaif, beliau langsung menuju
pusat kekuasaan, tempat diputuskannya suatu ketetapan politik di Thaif.
Nabi SAW
berharap apabila beliau datang ke Thaif dan bertemu dengan mereka, mereka bisa
mengikuti seruannya dan ikut serta menggerakkan dakwah beliau di kota itu.
Dengan demikian, penduduk kota itu akan segera mengikuti seruan beliau dan
selanjutnya mereka dapat memberi bantuan untuk kepentingan penyiaran Islam di
kota Mekah. Dengan tidak berpikir panjang, Nabi saw berangkat ke Thoif secara diam-diam bersama Zaid bin Haritsah
(bekas budak Khadijah yang telah diangkat sebagai anak beliau) dengan berjalan kaki.
Setiba Nabi saw.
di Thaif bersama Zaid, beliau mencari tempat kediaman orang yang ditujunya,
yakni para pemimpin Bani Tsaqif yang sedang berkuasa disana. Beliau lalu
menyatakan maksud kedatangannya kepada mereka, yaitu selain hendak menyambug
tali kasih sayang dengan mereka dan mengekalkan persaudaraan dengan mereka
sepanjang adat istiadat bangsa Arab, beliau menganjurkan kepada mereka supaya
mengikut apa yang diserukannya.
Setelah mereka
mendengar seruan beliau, seketika itu penduduk Thaif yang bodoh marah, mencaci
maki, dan mendustakan beliau dengan perkataan-perkataan yang sangat kasar.
Mereka mengusir beliau dari rumah mereka dan pergi dari kota Thaif. Jika tidak,
beliau diancam akan dibinasakan saat itu juga.
Setelah
mendengar celaan, caci maki, dan ancaman mereka, beliau mohon diri seraya
berkata, “Jikalau kamu tidak sudi menerima kedatanganku ke sini, tidak mengapa.
Tetapi janganlah kedatanganku kemari disiarkan kepada penduduk kota ini.”
Beliau tidak ingin hal
tersebut terdengar oleh kaumnya sehingga akan memperunyam keadaan. Karena dalam
misinya ini, beliau berusaha melakukan serahasia mungkin, dan tidak ingin
tercium pergerakanya oleh kaum Quraisy,[21]
karena beliau sangat memperhatikan hal-hal berikut ini:
a. Saat
berangkat ke Thaif, beliau tidak menggunakan kendaraan, namun dilakukan dengan
berjalan kaki, agar orang Quraisy tidak mengira bahwa beliau akan keluar dari
Makkah. Sebab jika sampai beliau menggunakan kendaraan, mereka akan membaca
bahwa beliau sedang menuju suatu tempat tertentu, dan boleh jadi mereka akan
melakukan penghadangan dan pencekalan.
b. Rasulullah
mengajak Zaid, anak angkat beliau dalam keberangkatan tersebut. Jika dicermati,
dengan memiih Zaid sebagai teman perjalanan, terdapat beberapa aspek keamanan
yaitu, jika orang melihat bahwa ada orang lain yang menemani keberadaannya,
tentunya mereka akan membaca bahwa Rasulullah tidak bergerak sendirian.
Disamping itu, beliau mengenal Zaid sangat dekat. Beliau percaya Zaid dapat
menjaga rahasia, karena dia adalah orang yang ikhlas, jujur, dan amanah. Dan
itulah yang ditampakkan Zaid tatkala beliau diserang dengan lemparan batu. Dia
dengan berani melindungi Rasulullah dengan mnjadikan dirinya sebagai perisai
beliau dari lemparan tersebut walaupun kepalanya harus cedera.
c. Tatkala
perlakuan para pemuka dan masyarakat Thaif sangat buruk kepada beliau. Beliau
dengan sabar menanggunnya, tidaklah beliau marah atau mendendam, namun beliau
hanya meminta agar mereka tidak menutupi semua kejadian ini. Inilah langkah
kerahasiaan yang sangat optimal. Sebab jika sampai orang Quraisy mengetahui hal
itu, tidak hanya mereka akan mencerca beliau, namun boleh jadi mereka akan
semakin keras dalam melakukan penindasan dan tekanan, maka semakin
terhalangilah semua gerakan beliau di dalam dan luar Makkah.[22]
Berserah
diri dan berdoa kepada Allah
Sungguh, Bani Amr
adalah orang-orang yang tercela, bukannya menutupi peristiwa itu, mereka malah
membesar-besarkannya dengan melakukan aksi penyerangan kepada Rasul. Mereka
melempari beliau hingga berdarah-darah. Hingga akhirnya beliau dan Zaid
terpojok di perkebunan Atabah dan Syaibah. Keduanya adalah putra Rabi’ah yang
sedang berada di dalam kebun tersebut. Lalu setelah melihat kondisi yang
demikian, orang-orang Tsaqif yang semula mengejar beliau akhirnya kembali
pulang. Lalu beliau bersandar di salah satu batang anggur. Di sana beliau dan
anak angkatnya Zaid terduduk lemas, berusaha memulihkan tenaga dari apa yang
baru saja keduanya rasakan, dan kedua putra Rabi’ah si pemilik kebun melihat
kepada beliau dan Zaid. Keduanya pun menyaksikan dengan mata kepala apa yang
diterima Rasulullah dari keburukan orang-orang Tsaqif. Maka dalam kondisi yang
lemah dan tekanan psikis tersebut, beliau bermunajat kepada-Nya mengharap
ridha-Nya semata.
“Ya, Allah kepada-Mu aku mengadukan kelemahanku, kurangnya
kesanggupanku, dan kerendahan diriku berhadapan dengan manusia. Wahai Dzat Yang
Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Engkaulah Peindung bagi si lemah dan Engkau
jualah pelindungku! Kepada siapa diriku hendak Engkau serahkan? Kepada orang
jauh yang berwajah suram terhadapku, ataukah kepada musuh yang akan menguasai
diriku? Jika Engkau tidak murka kepadaku, maka semua itu tak kuhiraukan, karena
sungguh besar nikmat yang telah Engkau limpahkan kepadaku. Aku berlindung pada
sinar cahaya wajah-Mu, yang menerangi kegelapan dan mendatangkan kebajikan di
dunia dan di akhirat dari murka-Mu yang hendak Engkau turunkan dan
mempermasalahkan diriku. Engkau berkenan, sungguh tiada daya dan kekuatan apa
pun selain atas perkenan-Mu”[23]
Pertemuan Addas dengan Nabi Muhamad SAW
Utbah dan Syaibah yang
sedang berada di kebun itu selalu mengamati gerak-gerik Nabi dan Zaid. Keduanya
pun mengetahui bahwa kedua orang itu tengah menderita karena tampak oleh mereka
bahwa keduanya sedang terluka parah dan berlumuran darah. Timbullah rasa
kasihan mereka terhadap dri Nabi dan Zaid. Mereka lalu menyuruh bujangnya
bernama Addas supaya mengantar sepiring anggur kepada Nabi.
Addas adalah
seorang pengikut agama Nasrani. Ketika ia mendapat perintah dari tuannya supaya
mengantar sepiring anggur, ia segera mengambil buah dan diantarkannya kepada
Nabi. Sebelum anggur itu diantar, Addas dipesan oleh tuannya bahwa apabila
anggur itu telah sampai, Nabi segera dipersilakan memakannya. Pesan itu oleh
Addas dipeerhatikan benar-benar. Setelah sampai kepada Nabi saw, Addas
mempersilahkan beliau untuk segera memakanya. Sepiring anggur itu diterima Nabi
saw dengan baik dan sebagian anggur itu diberikan kepada Zaid lalu mereka
segera memakannya. Ketika hendak memakannya mereka membaca bismillah.
Addas selalu
memperhatikan gerak-gerik Nabi saw. dari jauh, Utbah dan Syaibah memperhatikan
juga. Sesudah Nabi dan Zaid memakan buah anggur tadi, Addas lalu bertanya
kepada Nabi tentang kalimat yang dibaca oleh beliau ketika makan.
Beliau bertanya,
“dari negeri apakah engkau wahai Addas?
Dan apa agamamu?” dia menjawab, aku
seorang Nasrani dan aku adalah seorang yang berasal dari negeri Ninawa.”
Rasul bertanya
lagi, “ apakah dari desa seorang lelaki yang shaleh bernama Yunus bin Mata?”
Addas menjawab,
“ Apa yang engkau ketahui tentang Yunus bin Mata?”
Beliau bersabda,
“Dia adalah saudaraku, dia seorang Nabi
dan aku pun seorang Nabi.”
Lalu Addas
langsung memeluk Rasulullah, mencium tangan dan kakinya. Melihat tingkah Addas,
kedua putra Rabi’ah yang merupakan majikannya berkata antara satu dengan yang
lainnya, “budakmu telah dirusak di hadapanmu.” Maka ketika Addas datang kembali
kepada majikannya, keduanya berkata,”celakalah engkau wahai Addas, mengapa
engkau tadi mencium kepada tangan dan kaki lelaki itu?”
Addas
menjawab,”wahai tuanku, tidak ada di muka bumi ini yang lebih baik dari lelaki
ini. Sungguh dia telah menyampaikan kepadaku tentang suatu perkara yang tak
seorang pun mengetahuinya selain aku.”
Keduanya berkata,
“celakalah engkau, jangan sampai dia membuatmu berpaling dari agamamu,
sesungguhnya agamamu lebih baik daripada agamanya.” [24]
D. Keteladanan terkait dengan kesabaran Nabi Muhammad SAW dalam
peristiwa hijrah ke Thaif dan Habsyah
Nabi Muhammad Saw adalah seorang manusia yang mulia pilihan Allah SWT.
Tak salah jika perkataan dan perbuatannya dijadikan sebagai teladan oleh umat
Islam dalam kehidupan manusia. Sikapnya yang lembut dan tak pendendam menjadikan ciri suri tauladan yang dicontohkan beliau.
Rasulullah juga selalu tenang dan tidak gegabah dalam menjalankan suatu misi
atau peperangan untuk menyiarkan agama Islam.
Begitu juga ketika Rasulullah melakukan hijrah ke negeri Habsyah dan Thaif. Beberapa
teladan yang dapat dipetik dalam peristiwa tersebut adalah diantaranya:
a. Tidak mengandalkan keajaiban di luar
kemampuan manusia biasa. Apa yang dapat dilakukan diperhitungkan dengan matang.
b.Sabar dalam menghadapi setiap musuh yang menghadang beliau.
c. Tidak membalas kekerasan yang dilakukan
oleh musuh.
d.
Hijrah Rasulullah Saw dilakukan semata-mata hanya untuk menyiarkan agama
Islam.
e.
Tawakal selalu melekat dalam hatinya dalam menghadapi segala masalah.
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Sikap
kaum musyrikin yang semena-mena dan kejam terhadap kaum muslimin meyebabkan
Rasulullah tak kuasa melihat kaumnya ditindas kaum Quraisy. Pemboikotan dan
kekejaman yang dilakukan kaum Quraisylah faktor Rasulullah menyuruh kaumnya
untuk hijrah ke Habasyah pada tahun
ke-5 Kenabiannya. Dalam kondisi ini, turunlah sebuah
ayat yang memerintahkan untuk melakukan hijrah sebab bumi Allah ini tidaklah
sempit, ayat tersebut berbunyi :
قُلْ
يَا عِبَادِ الَّذِينَ آمَنُوااتَّقُوا رَبَّكُمْۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي
هَٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗ وَأَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةٌ ۗ إِنَّمَا يُوَفَّى
الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
Artinya
:
Katakanlah: "Hai
hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu". Orang-orang yang
berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas.
Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka
tanpa batas.(Q.S Az-Zumar:10)
Pemboikotan
yang dilakukan Rasulullah beserta kaum muslimin lain yang tidak ikut ke Habasyah
mengalami kesengsaraan dan kepedihan. Mereka hanya memakan makanan seadanya dan
berpakaian apa yang dikenakannya saja Di negeri Habasyah,
kaum muslimin diperlakuan begitu baik dengan rajanya yaitu Raja Najasyi.
Walaupun Raja Najasyi termasuk Nasrani, namun hatinya begitu lembut terhadap
rakyatnya. Raja Najasyi tidak pernah melakukan kekerasan maupun pilih kasih
terhadapnya rakyatnya. Oleh karena itu, kaum muslimin hidup begitu tenang dan
damai untuk melakukan ibadah di negeri Habasyah.
Setelah
mengalami beberapa kesengasaraan yang dilakukan kaum Quraisy, Rasulullah masih
mengalami kepedihan yang lain yaitu dengan meninggalnya istri beliau Khadijah
dan paman beliau Abu Thalib pada tahun ke-10 setelah Kenabiannya. Tahun inilah
yang disebut tahun kesedihan. Untuk mengurangi kesedihannya, Rasulullah
melakukan hijrah ke Thaif bersama anak angkatnya Zaid bin Haritsah. Selain itu
beliau juga akan berdakwah di negeri subur tersebut yang diperebutkan pihak Quraisy
untuk dikuasainya. Sesampainya di Thaif, Rasulullah dan Zaid disambut dengan
cercaan, hinaan, makian bahkan dilempari batu oleh masyarakat Thaif. Mereka
enggan menerima maksud kedatangan Rasulullah ke Thaif.
B.
Saran
Karena keterbatasan
pengetahuan kami,
hingga hanya inilah yang dapat kami
sajikan, dan tentu saja masih sangat kurang dari sisi materinya, maka itu kami mengharapkan masukan
baik itu kritik maupun saran dari pembaca demi melengkapi kekurangan tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
al-Mubarakfury,
Syaikh Shafiyyurrahman. 2010.Shahih Sirah Nabawiyah. Bandung : Jabal.
An-Nadwi,
Abul Hasan ‘Ali Al-Hasani.
2015.
Sirah Nabawiyah. Yogyakarta :
Darul Manar.
Al-MubarakFuri,Syekh Safiyyurrahman. 1421 H/2001 M .Ar-Rahiq Al-Makhtum. Jakarta : Darus Salam.
Haekal,
Muhammad Husain. 2014.Sejarah
Hidup Muhammad.
Jakarta : PT. Mitra Kertaya Indonesia.
Chalil, Moenawar. 2001. Kelengkapan
Tarikh Nabi Muhammad SAW Jilid 2. Jakarta:Gema Insani.
[1]Syaikh
Shafiyyurrahman al-Mubarakfury, Shahih
Sirah Nabawiyah, Terj. Zaenal Mutaqin (Bandung : Jabal, 2010), hlm. 117.
[3]Abul Hasan
‘Ali Al-Hasani An-Nadwi, Sirah Nabawiyah
(Yogyakarta : Darul Manar, 2015), hlm. 138.
[4]Syaikh
Shafiyyurrahman al-Mubarakfury, op. cit. 118.
[5]Syekh Safiyyurrahman
Al-MubarakFuri,Ar-Rahiq Al-Makhtum ( Jakarta : Darus Salam, 1421 H/2001 M), hlm. 122.
[6] Ibid,.hlm.123.
[7] Ibid,.hlm.124.
[11]Muhammad
Husain Haekal, Sejarah Hidup Muhammad,
Terj. Ali Audah (Jakarta : PT. Mitra Kertaya Indonesia, 2014), hlm. 109.
[12]Abul Hasan
‘Ali Al-Hasani An-Nadwi, op. cit. hlm.140.
[13]Ibid,. hlm.
141.
[14]Muhammad
Husain Haekal, op.cit. hlm. 110.
[16]Abul Hasan
‘Ali al-Hasani an-Nadwi, op.cit. hlm. 143.
[19]Moenawar
Chalil, Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad SAW Jilid 2 (Jakarta:Gema
Insani, 2001).hlm.
46.
[20]Syarh
Al-Asqalani li Shahih Al-Bukhari, kitab
Al-Kafalah (4/373).
[24]Shahih As-Sirah An-Nabawiyah, 136-137.
1xBet - Best Bet for Horse Racing - Riders Casino
BalasHapus1xBet - Best Bet head titanium tennis racket for Horse Racing. This casino uses our best software 2018 ford ecosport titanium and is always up titanium for sale to date 2019 ford edge titanium for sale on horse racing betting 1xbet login odds!