Kamis, 17 November 2016

hijrah ke habasyah dan hijrah tha'if



HIJRAH HABASYAH dan HIJRAH THA’IF
Makalah ini disusun guna memenuhi Tugas UAS Kelompok Mata Kuliah Sirah Nabawiyah
Dosen pengampu : Imamul Huda, M.Pdi.


                                                           Disusun oleh:
Holifatus Sakdiyah                            23010160129
Nur Indah Wulandari                        23010160107
Ani Fitriani                                        23010160124
Ani Khudhoefiyah                            23010160118
Zein Chairul Mahfiz                          23010160114

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SALATIGA
2016
  





KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah swt karena berkat rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah dengan judul Hijrah Habasyah dan Hijrah Tha’if ini dengan baik meskipun banyak kekurangan didalamnya. Dan juga kami berterima kasih pada Bapak Imamul Huda, M. Pd.I. selaku Dosen mata kuliah Sirah Nabawiyah yang telah memberikan tugas ini kepada kami.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan kita mengenai Hijrah Habasyah dan Hijrah Tha’if. kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang telah kami buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun. Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya.
Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi diri kami sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun dari Anda demi perbaikan makalah ini di waktu yang akan datang.


Salatiga, 17 November 2016







DAFTAR ISI

LEMBAR JUDUL………………………………………………………..
KATA PENGANTAR……………………………………………………   i
DAFTAR ISI……………………………………………………………..    ii
BAB I PENDAHULUAN………………………………………………..   1
A.    Latar belakang………………………………………………..    1
B.    Rumusan masalah…………………………………………….    1
C.    Tujuan………………………………………………………..     2
BAB II PEMBAHASAN…………………………………………………  3
BAB III PENUTUP………………………………………………………   20
A.    Kesimpulan…………………………………………………...    20
B.     Saran………………………………………………………….    21
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………….   22


BAB I

PENDAHULUAN

A.       Latar Belakang
Sudah beberapa kali Rasulullah melakukan hijrah guna untuk menyerukan ajaran agama Islam. Beliau melakukan dakwah karena wahyu dari Allah SWT. Dakwah yang dilakukan beliau secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Awal mula Rasulullah menerima wahyu, Rasulullah hanya melakukan dakwah secara sembunyi karena belum memiliki keberanian untuk segera menyerukan agama Allah SWT. Kasar dan kerasnya watak masyarakat Arab merupakan salah satu contoh sebab Rasulullah melakukan dakwah secara sembunyi-sembunyi.
Setelah memperoleh beberapa wahyu, Rasulullah mulai berani melakukan dakwah secara terang-terangan. Dari negeri ke negeri. Rasulullah berjuang menyebarkan agama Islam, ajaran yang lurus. Dakwah yang dilakukan Rasulullah dilakukan dengan cara yang bermacam-macam. Namun, kami hanya akan membahas dua dari sekian banyak dakwah yang dilakukan Rasulullah. Hijrah ke Habsyah dan Thaif merupakan salah satu contoh Rasulullah melakukan dakwahnya. Habsyah dan Thaif merupakan negara yang diperebutkan kaum Quraisy agar dapat dikuasainya. Habsyah dan Thaif juga termasuk negeri yang begitu subur, karenanya Rasulullah melakukan dakwah di dua negeri tersebut Selain itu, ada beberapa hal menarik yang dapat diambil hikmahnya dalam mempelajari hijrah Rasulullah Saw ke Habsyah dan Thaif.

B.       Rumusan Masalah
1.    Bagaimana peristiwa yang terjadi pada waktu Rasulullah Hijrah ke Habasyah?
2.    Apakah penduduk Habasyah menerima kedatangan umat muslim?
3.    Mengapa Rasulullah berhijrah ke Thaif?
4.    Apakah penduduk Thaif menerima kedatangan Rasulullah SAW?
5.    Contoh keteladanan apa saja yang dapat diambil dari peristiwa hijrah ke Habasyah dan Thaif?

C.       Tujuan
1.    Untuk mengetahui peristiwa-peristiwa yang terjadi ketika sebagian umat muslim pada saat itu berhijrah ke Habasyah.
2.    Untuk mengetahui sikap penduduk Habasyah terhadap kaum muslim.
3.    Untuk mengetahui sebab Rasulullah melakukan hijrah ke Thaif.
4.    Untuk mengetahui sikap penduduk Thaif terhadap Rasulullah.
5.    Untuk mengetahui pelajaran yang dapat diambil terutama keteladanan akhlak Rasulullah.
BAB II
PEMBAHASAN

A.        Hijrah Pertama ke Habasyah
Tekanan dan siksaan terjadi sejak pertengahan atau akhir tahun keempat dari kenabian. Pada awalnya, tekanan dan siksaan itu tidak begitu keras, tetapi dari hari ke hari, tekanan dan siksaan tersebut semakin menjadi-jadi dan semakin kejam. Sampai puncaknya sekitar pertengahan tahun ke-5 sehingga mereka tidak bisa hidup tenang di kota Mekah sehingga perlu dipikirkan jalan agar mereka dapat terlepas dari pedihnya siksaan dan dari beratnya tekanan Kafir Quraisy. Dalam kondisi ini, turunlah sebuah ayat yang memerintahkan untuk melakukan hijrah sebab bumi Allah ini tidaklah sempit, ayat tersebut berbunyi :[1]

قُلْ يَا عِبَادِ الَّذِينَ آمَنُوااتَّقُوا رَبَّكُمْۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗ وَأَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةٌ ۗ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Artinya :
Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu". Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.(Q.S Az-Zumar:10)[2]
Pada saat itu Rasulullah saw. menyaksikan bencana yang menimpa para pengikutnya, sedangkan beliau tidak mampu melindungi mereka. Maka beliau berkata kepada mereka,“Sebaiknya kalian pergi ke Habasyah karena di sana ada seorang raja yang adil sekali. Di dalam kekuasaannya tidak seorang pun boleh dianiaya, di sana adalah bumi kejujuran. Sampai Allah memberikan jalan keluar kepada kalian.”[3]
Sebelum Rasulullah saw. berkata seperti itu, Rasulullah saw. sendiri sudah mengetahui sifat Raja Ashamah an-Najasyi di Habasyah. Raja Ashamah an-Najasyi adalah raja yang adil dan tidak menyukai kezaliman terhadap siapa pun, maka beliau memerintahkan kaum Muslimin agar hijrah ke Habasyah. Untuk menghindari dari fitnah.
Kemudian, pada bulan Rajab tahun ke-5 dari kenabian, kelompok pertama dari para sahabat hijrah ke Habasyah. Jumlah mereka sekitar 12 orang laki-laki dan 4 orang perempuan. Hijrah ini dipimpin oleh Utsman bin Affan disertai oleh istrinya Ruqayyah binti Muhammad saw. Rasulullah berkata tentang mereka berdua “ Keduanya adalah orang pertama dari penduduk Bitul Haram yang hijrah di jalan Allah setelah hijrahnya Nabi Ibrahim dan Nabi Luth a.s.”
Perjalanan dilakukan dengan mengendap-endap di tengah gelapnya malam. Agar mereka tidak dipergoki oleh Kafir Quraisy. Secara kebetulan, ketika mereka sampai di pelabuhan Syaibah, ada 2 kapal yang akan bertolak menuju Habasyah. Dengan kedua kapal ini, mereka pergi ke sana. Orang-orang Quraisy mengetahui kepergian mereka, dengan segera mereka mengejar, tetapi ketika sampai di pantai kaum Muslimin telah berlayar. Akhirnya, mereka sampai di Habasyah dan diterima secara baik.[4]

Kisah Sujudnya Kaum Musyrikin Bersama-sama Kaum Muslimin Dan Kembalinya Para Sahabat yang Berhijrah
   Pada bulan ramadhan ditahun yang sama, rasulullah SAW pergi ke masjidil haram. Disana banyak berkumpul kaum Quraisy, terdiri dari para pemuka dan tokoh-tokoh mereka. Beliau Rasulullah SAW kemudian berdiri di tengah mereka dan mndadak surat An-Najm orang-orang Kafir tersebut, sebelumnya tidak pernah mendengarkan Kalamullah secara langsung, karena program yang mereka ancarkan secara kontinyu adalah melakukan apa yag saling mereka [5]nasihatkan satu sama lain. Sebagaimana diabadikan oleh Allah dalam firman-Nya,
“… janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan Al-Qur’an ini dan buatlah hiruk pikuk terhadapnya supaya kamu dapat mengalahkan ( mereka ).” Q.S. Fusshilat : 26.
Maka, manakala mereka mendadak, beliau membacakan surat tersebut kepada mereka dan kalami ilahi yang demikian indah menawan yagn tidak dapat dilupakan dengan kata-kata keindahan dan sempat mengetuk gendang telinga mereka, maka seakan mereka mengesampingkan apa yang selama ini mereka lakukan dan setiap orang terkonsentrasi untuk mendengarkannya sehingga tidak ada yang terlintas di hatinya selain kalam itu. Lalu sampailah beliau pada akhir surat ini, berupa ketukan-ketukan yang membawa hati seakan terbang melayang beliau membaca firman-Nya,
“ Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah dia.” Q.S. An-Najm:62.
Kemudian beliau pun sujud. Melihat peandangan itu, tak seorang pun dari mereka yang dapat menahan dirinya untuk tidak sujud, sehingga mereka pun sujud bersama beliau. Sebenarnya, keindah menawanan al-haq telah meluluhlantakan kebatuan yang meliputi jiwa kaum yang takabur dan suka mengejek, mereka semua tak sanggup menahannya bahkan bersimpuh sujud kepada Allah.
Mereka linglung dan tak tahu harus berbuat aa, manakala keagungan kalamullah telah melintir kendali yang selama ini yang mereka pegang sehingga membuat mereka melakukan sesuatu yang selama ini justru dengan susah payah berusaha mereka hapus dan leyapkan. Kejadian tersebut mendapatkan kecaman dari teman-teman mereka yang tidak sempat hadir ketika itu. Maka, mereka mersa inilah momen bagi mereka untuk mendustakan Rasulullah SAW dengan membalikan fakta yang sebenarnya, bahwa[6]yang terjadi adalah beliau mengungkapkan kata-kata penghormatan terhadap berhala-hala, yaitu beliau mengatakan “Itulah Al-Gharaniq yang mulia, yang syafa’atnya selalu diharap-harapkan.”
Isu ini mereka gembar-gemborkan agar dapat menjadi alasan sujud mereka bersama nabi SAW ketika itu. Tentunya, hal ini tidak mengherankan sekali sebab sumbernya adalah dari orang yang selama ini pekerjaannya suka mengarang-ngarang dusta serta menghembuskan isu.
Berita tersebut (tentang sujud kaum Quraisy, pent.) sampai ketelinga kaum muslimin yang berhijrah di Habasyah akan tetapi versi beritanya sangat bertentangan dengan realitas yang sebenarnya. Yaitu, yang sampai kepada mereka bahwa kaum Quraisy telah masuk Islam. Oleh karena itu, mereka pun kembali ke Mekkah pada bulan Syawal di tahun yang sama, namun ketika mereka berada di tempat yang tidak berapa jauh dari Mekkah, yaitu sesaat di waktu siang, dan mereka akhirnya mengetahui duduk persoalannya, sebagian mereka ada yang kembali ke Habasyah sedangkan sebgian yang lain ada yang memasuki Mekkah secara diam-diam atau berlindung di bawah jaminan salah tokoh Quraisy.[7]

Kembali lagi ke Habasyah
Kabar tentang kejadian ini tersebar hingga terdengar oleh kaum Muslimin yang berada di Habasyah. Tetapi, kabar yang sampai tidak sepenuhnya benar. Yang mereka dengar adalah bahwa kaum Kafir Quraisy telah masuk Islam dan sujud bersama Rasulullah saw, maka mereka semua kembali ke Mekah pada bulan Syawal tahun yang sama. Mereka hampir mendekati Mekah pada saat tengah hari, saat itulah mereka tahu apa yang sebenarnya terjadi. Sebagian mereka ada yang kembali ke Habasyah, sebagian lagi tetap masuk ke kota Mekah dengan cara bersembunyi dan berlindung di rumah orang Quraisy.
Sejak saat itu, penindasan dan siksaan semakin gencar dan kejam dilancarkan oleh Kafir Quraisy. Orang Kafir Quraisy merasa disulitkan oleh sikap Raja Najasyi yang baik, maka Rasulullah saw. tidak melihat jalan lain, kecuali memerintahkan kaum Muslimin untuk hijrah yang ke-2 kalinya ke Habasyah.[8]

B.       Hijrah Kedua ke Habasyah
Kaum Muslimin bersiap-siap berangkat hijrah kembali ke Habasyah untuk yang kedua kalinya. Hijrah kali ini, lebih sulit jika dibanding dengan yang pertama sebab Kafir Quraisy sudah mulai waspada dengan langkah kaum Muslimin dan mereka sudah siap untuk menggagalkannya. Kaum Muslimin pun bergerak lebih cepat. Dengan pertolongan Allah yang melapangkan jalan mereka, akhirnya mereka dapat pergi sebelum dipergoki oleh Kafir Quraisy.
Hijrah yang kedua ini diikuti 83 orang laki-laki dan 18 atau 19 orang perempuan.[9]

Kaum Quraisy mencari-cari Kesalahan Umat Islam
Ketika kaum Quraisy mengetahui bahwa mereka yang beriman telah mendapatkan ketentraman di negeri Habasyah, mereka mengutus ‘Abdullah bin Abu Rabi’ah dan ‘Amr bin al-‘Ash bin Wa’il. Mereka menyertakan pada keduanya, hadiah-hadiah untuk Raja Najasyi (Negus) dan para panglima perangnya, yaitu berupa benda-benda berharga produksi Makkah.
Kedua utusan Quraisy itu mempersembahkan hadiah kepada Raja Najasyi. Mereka membujuk para panglima dan membuat mereka senang dengan hadiah-hadiah tersebut. [10]
“Paduka Raja,” kata mereka, “ Mereka yang datang ke negeri Paduka ini adalah budak-budak kami yang tidak punya malu. Mereka meninggalkan agama bangsanya dan tidak pula menganut agama Paduka, mereka membawa agama yang mereka ciptakan sendiri, yang tidak kami kenal dan tidak juga Paduka. Kami diutus kepada Paduka oleh pemimpin-pemimpin masyarakat mereka, orang-orang tua mereka, paman-paman mereka dan keluarga mereka sendiri, supaya Paduka sudi mengembalikan orang-orang itu mencemarkan dan mencerca agama mereka.”
Sebenarnya kedua utusan itu telah mengadakan persetujuan dengan para pemuka agama kerajaan, setelah mereka menerima hadiah-hadiah dari penduduk Mekah, bahwa mereka akan membantu usaha mengembalikan Muslimin itu kepada pihak Quraisy. Pembicaraan mereka ini tidak sampai diketahui Raja. Tetapi baginda menolak sebelum mendengar sendiri keterangan dari pihak Muslimin. Lalu mereka diminta menghadap Raja.
“ Agama apa ini yang sampai membuat Tuan-tuan meninggalkan masyarakat Tuan-tuan sendiri, tetapi tidak juga agama kami, atau agama lain?” tanya Raja Najasyi setelah mereka datang.[11]

Uraian Ja’far bin Abi Thalib tentang Jahiliyah dan Islam
Ja’far bin Abi Thalib yang merupakan saudara sepupu Rasulullah saw. berdiri. Ia berkata kepada Raja Najasyi, “ Wahai Raja! Dahulu kami adalah kaum jahiliyah. Kami menyembah berhala dan memakai bangkai. Kami juga melakukan perbuatan keji dan memutuskan hubungan silaturahmi. Orang yang kuat diantara kami memangsa yang lemah. Kami dahulu seperti itu hingga Allah mengutus kepada kami, seorang Rasul yang kami kenal garis keturunannya, kebenaran, kejujuran dan kesuciannya. Ia mengajak kami untuk mengesakan Allah dan menyembah-Nya, meninggalkan apa yang dahulu kami sembah dan disembah oleh nenek moyang kami yakni batu dan patung kayu.
“Ia memerintahkan kami untuk berkata jujur, melaksanakan amanah, menyambung hubungan kekeluargaan, bersikap baik kepada tetangga, menjaga kehormatan dan menghentikan pertumphan darah. Ia melarang kami melakukan perbuatan keji, mengucapkan sumpah palsu, memakan harta anak yatim dan menuduh berzina kepada perempuan yang baik-baik.”[12]
“Ia memerintahkan kami untuk menyembah Allah sebagai satu-satunya tuhan, tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun. Ia memerintahkan kami untuk mengerjakan shalat, menunaikan zakat dan berpuasa....” Lalu Ja’far menyebutkan ajaran Islam yang lainnya. “Maka kami mempercayainya dan kami beriman kepadanya. Kami mengikuti apa yang dibawanya dari Allah. Kami menyembah Allah sebagai satu-satunya Tuhan, tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun. Kami mengharamkan apa yang diharamkan atas kami dan kami menghalalkan apa yang dihalalkan untuk kami.”
“ Maka kaum kami memusuhi kami. Mereka menyiksa kami. Mereka membujuk dan memaksa kami untuk meninggalkan agama kami dan kembali kepada penyembahan berhala dari penyembahan kepada Allah Yang Maha Tinggi dan agar kami menghalalkan perbuatan tercela yang dahulu (pada masa jahiliyah) kami halalkan.”
“Ketika mereka memaksa kami, menganiaya kami, mempersulit kami dan menghalangi kami dari agama kami, maka kami pergi dari negeri kami. Kami memilih engkau dan kami merasa senang berada di dekatmu. Kami berharap agar kami tidak dianiaya di sisimu, wahai Raja!”
Raja Najasyi mendengarkan semua itu dengan tenang dan diam.[13] Kemudian ia bertanya, ”Adakah ajaran Tuhan yang dibawanya itu yang dapat Tuan-tuan bacakan kepada kami?”. “Ya”, jawab Ja’far, lalu ia membacakan Surah Maryam dari permulaan sampai pada firman Allah yang berbunyi dalam Q.S. Maryam : 29 – 33 yan berbunyi,[14]
Artinya : “Tetapi dia menunjuk kepada bayinya. Merka berkata, “Bagaimana kami akan berbicara dengan anak yang masih dalam buaian? “ Dia (Isa) berkata, “Aku sungguh hamba Allah, memberikan wahyu kepadaku dan Dia menjadikan aku seorang nabi. Dan dia memberi berkat kepadaku dimana pun aku beradad dan memerintahkan kepadaku mendirikan shalat dan mengeluarkan zakat selama aku masih hidup. Dan ia menjadikan aku berbakti kepada ibuku dan tidak menjadikan sewenang-wenang dan durhaka. Salam sejahtera bagiku, tatkala aku dilahirkan, tatkala aku mati dan tatkala aku dibangkitkan hidup kembali.” (Q.S. Maryam :29-33)
Setelah mendengar bahwa keterangan itu membenarkan apa yang tersebut dalam injil, pemuka-pemuka agama itu terkejut, “ Kata-kata yang keluar dari sumber yang sama seperti yang dikeluarkan Yesus Kristus,” kata mereka.
Raja Najasyi berkata, “ Kata-kata ini dan yang dibawa oleh Musa, keluar dari sumber cahaya yang sama. Tuan-tuan (kepada kedua orang utusan Quraisy) pergilah. Kami tak akan menyerahkan mereka kepada Tuan-tuan!”
Keesokan harinya ‘Amr bin al-As kembali menghadapi Raja dengan mengatakan, bahwa Muslimin mengeluarkan tuduhan yang luar biasa terhadap Isa anak Maryam. Panggilah mereka dan tanyakan apa yang mereka katakan itu.
Setelah mereka datang, Ja’far berkata, “ Tentang dia pendapat kami seperti yang dikatakan Nabi kami. Dia adalah hamba Allah dan utusan-Nya, Roh-Nya dan Firman-Nya yang disampaikan kepada Perawan Maryam.”
Raja Najasyi mengambil sebatang tongkat dan menggoreskannya di tanah. Dan dengan gembira sekali Baginda berkata, “ Antara agama Tuan-tuan dengan agama kami sebenarnya tidak lebih dari garis ini.”
Setelah dari kedua belah pihak didengarnya Raja Najasyi melihat, bahwa Muslimin itu mengakui Isa, mengenal agama Nasrani dan menyembah Allah.[15]
Raja Najasyi mengembalikan umat islam dengan penuh penghormatan ke tempat mereka, menjaga keamanan mereka dan memerintahkan untuk mengembalikan hadiah kedua utusan kaum Quraisy. Kedua utusan tersebut pergi dari sisinya dalam keadaan tercela. Maka umat islam pun tinggal di tempat yang paling baik dengan tetangga yang sangat baik pula.
Saat itu Raja Najasyi diserang musuhnya, maka umat Islam yang berhijrah ke Habasyah membantunya, sebagai pengakuan atas kebaikan sikapnya kepada orang-orang tertindas yang berhijrah ke sana dan sebagai balasan atas kebaikannya. Hal ini sesuai dengan ajaran-ajaran moral dalam Islam dan sesuai dengan akhlak umat Islam.
Hijrah ke Habasyah terjadi pada tahun ke-5 sesudah kenabian. Ja'far bin Abi Thalib dan sejumlah sahabat menetap di sana hingga tahun ke-7 Hijrah. Ja'far bin Abi Thalib menemui Rasulullah saw. pada perang Khaibar. Jadi, mereka tinggal di Habasyah selama 15 tahun. Itu adalah waktu yang lama. Mestinya Ja'far telah mendapatkan hasil dalam dakwah Islam dan telah mendapatkan pengakuan di negeri yang lebih unggul dibandingkan negeri-negeri Kristen lainnya dalam hal toleransi dan perlindungan orang-orang yang tertindas. Pemerintahnya mengetahui dengan baik tentang keadilan dan kemanusiaan. Akan tetapi tidak ada dokumen sejarah yang memperkuat hal tersebut. Namun demikian, hal itu dapat dilakukan dengan metode Qiyas atau analogi sejarah.[16]
Setelah peristiwa tersebut. Umat Islam menjadi merasa kuat ketika ‘Umar masuk Islam. Apalagi sebelumnya Hamzah juga telah masuk Islam. Mereka mengetahui pengaruh Islamnya ‘Umar bagi orang-orang kafir dari kalangan Quraisy dan dalam sistem kehidupan di Makkah. Mereka[17] tidak keliru. Sebab orang-orang musyrik tidak merasa berat dengan Islamnya seseorang dan tidak memperhitungkannya. Berbeda dengan yang mereka rasakan dan perhitungkan dengan Islamnya ‘Umar ra.
‘Umar mengumumkan keislamannya. Hal itu tersebar di kalangan Quraisy. Mereka menantangnya berkelahi dan ‘Umar pun memenangkan perkelahian tersebut hingga mereka putus asa.[18]

Keadaan Nabi Muhammad SAW. Selama Diboikot
Selama pemboikotan yang berlangsung kurang lebih tiga tahun, Rasulullah dan kaum keluarganya serta kaum muslimin yang tidak ikut ke negeri Habasyah mengalami berbagai kesulitan dan kesengsaraan dalam hidupnya. Pada masa pemboikotan mereka hanya memakan apa saja yang didapat dan berpakaian apa saja yang dapat dikenakan.
Inilah kesengsaraan dan kemiskinan yang diderita Rasulullah dan kaum muslimin pada masa itu. Sungguh pun demikian, Rasulullah dan segenap kaum muslimin tetap tenang serta teguh mengerjakan perintah-perintah Allah.[19]

Cerita tentang rusaknya lembar pengumuman
Dalam masalah pembuatan dan pemasangan lembar pengumuman  aksi pemboikotan ini menjadi pro kontra di kalangan kaum kafir Quraisy. Pihak yang kontra berusaha untuk merobeknya.
Selanjutnya, Allah memperlihatkan kepada Rasul-Nya atas nasib lembar pengumuman aksi pemboikotan yang dilakukan kaum Quraisy. Allah mengirim rayap untuk memakannya berikut semua tulisan yang berisi kedzaliman kecuali tulisan yang yang menyebut nama Allah.
Rasulullah memberitahukan hal tersebut kepada pamannya  yaitu Abu Tholib. Abu Tholib langsung menemui para pemuka kaum Quraisy dan berkata, “Jika ia dusta, aku akan menyerahkan ia (Muhammad) kepada kalian. Terserah mu apakan ia. Dan jika ia benar, kalian harus menghentikan tindakan kalian yang jahat dan semena-mena ini.”
Mereka setuju, kemudian menurunkan lembar pengumuman pemboikotan tersebut. Begitu dilihat ternyata memang benar apa yang dikatakan Rasulullah. Tetapi mereka justru bertambah kufur.

C.       HIJRAH KE THAIF
Peristiwa hijrah Nabi Muhammad ke Thaif terjadi pada tahun ke-10 Kenabian ketika para ketua dan pembesar musyrikin Quraisy menyadari bahwa Nabi tidak mempunyai tulang punggung yang dapat melindungi beliau apabila disakiti dan dianiaya atau diperlakukan dengan kejam karena orang yang beliau sayangi dan kasihi telah meninggal dunia, yaitu Abu Thalib dan Khadijah sehingga disebut tahun kesedihan (Ammul Huzni), maka mereka semakin menghalangi dan memusuhi beliau. Setiap hari, siang dan malam, beliau tidak henti-henti menerima celaan,cercaan, penghinaan, dan perbuatan yang menyakitkan dari para musyrikin Quraisy. Oleh sebab itu, teringat oleh beliau bahwa di kota Thaif ada seorang yang masih termasuk keluarga dekat beliau dari keturunan Tsaqif. Di kota Thaif, merekalah yang memegang kekuasaan. Ketika itu tinggal tiga orang, yaitu: Kinanah yang bergelar Abdu Jaffi, Mas’ud yang bergelar Abdul Kulal, dan Habib. Ketiganya adalah anak dari Amr bin Umair bin Auf ats-Tsaqafi dan masing-masing memegang kekuasaan di kota Thaif.
Nabi Muhammad memilih Thaif karena Thaif adalah wilayah yang sangat strategis bagi masyarakat Quraisy. Bahkan kaum Quraisy sangat menginginkan wilayah tersebut dapat mereka kuasai. Sebelumnya mereka telah mencoba untuk melakukan hal itu. Bahkan mereka melompat ke lembah Wajj. Hal demikian lantaran Thaif memiliki sumber daya pertanian yang sangat kaya. Hingga akhirnya orang-orang Tsaqif takut kepada mereka dan mau bersekutu dengan mereka. Bergabung pula bersama mereka Bani Daus.[20] Tidak sedikit dari orang-orang kaya di Makkah yang memiliki simpanan harta di Thaif. Disana juga mereka mengisi waktu-waktu rehat pada musim panas. Adapun Kabilah Bani Hasyim dan Abdu Syam senantiasa menjalin komunikasi baik dengan orang-orang Thaif. Pergerakan dakwah yang penuh strategi yang dijalankan oleh Rasulullah ini sebagai bentuk upaya beliau, antusias beliau, untuk mendirikan negara Islam tangguh yang sanggup bertahan dalam arena pertarungan. Karena, sesungguhnya suatu negara yang kuat merupakan fasilitas dakwah yang teramat penting dan utama. Maka tatkala beliau tiba di Thaif, beliau langsung menuju pusat kekuasaan, tempat diputuskannya suatu ketetapan politik di Thaif.
Nabi SAW berharap apabila beliau datang ke Thaif dan bertemu dengan mereka, mereka bisa mengikuti seruannya dan ikut serta menggerakkan dakwah beliau di kota itu. Dengan demikian, penduduk kota itu akan segera mengikuti seruan beliau dan selanjutnya mereka dapat memberi bantuan untuk kepentingan penyiaran Islam di kota Mekah. Dengan tidak berpikir panjang, Nabi saw berangkat ke Thoif  secara diam-diam bersama Zaid bin Haritsah (bekas budak Khadijah yang telah diangkat sebagai anak beliau)  dengan berjalan kaki.
Setiba Nabi saw. di Thaif bersama Zaid, beliau mencari tempat kediaman orang yang ditujunya, yakni para pemimpin Bani Tsaqif yang sedang berkuasa disana. Beliau lalu menyatakan maksud kedatangannya kepada mereka, yaitu selain hendak menyambug tali kasih sayang dengan mereka dan mengekalkan persaudaraan dengan mereka sepanjang adat istiadat bangsa Arab, beliau menganjurkan kepada mereka supaya mengikut apa yang diserukannya.
Setelah mereka mendengar seruan beliau, seketika itu penduduk Thaif yang bodoh marah, mencaci maki, dan mendustakan beliau dengan perkataan-perkataan yang sangat kasar. Mereka mengusir beliau dari rumah mereka dan pergi dari kota Thaif. Jika tidak, beliau diancam akan dibinasakan saat itu juga.
Setelah mendengar celaan, caci maki, dan ancaman mereka, beliau mohon diri seraya berkata, “Jikalau kamu tidak sudi menerima kedatanganku ke sini, tidak mengapa. Tetapi janganlah kedatanganku kemari disiarkan kepada penduduk kota ini.”
Beliau tidak ingin hal tersebut terdengar oleh kaumnya sehingga akan memperunyam keadaan. Karena dalam misinya ini, beliau berusaha melakukan serahasia mungkin, dan tidak ingin tercium pergerakanya oleh kaum Quraisy,[21] karena beliau sangat memperhatikan hal-hal berikut ini:
a.    Saat berangkat ke Thaif, beliau tidak menggunakan kendaraan, namun dilakukan dengan berjalan kaki, agar orang Quraisy tidak mengira bahwa beliau akan keluar dari Makkah. Sebab jika sampai beliau menggunakan kendaraan, mereka akan membaca bahwa beliau sedang menuju suatu tempat tertentu, dan boleh jadi mereka akan melakukan penghadangan dan pencekalan.
b.    Rasulullah mengajak Zaid, anak angkat beliau dalam keberangkatan tersebut. Jika dicermati, dengan memiih Zaid sebagai teman perjalanan, terdapat beberapa aspek keamanan yaitu, jika orang melihat bahwa ada orang lain yang menemani keberadaannya, tentunya mereka akan membaca bahwa Rasulullah tidak bergerak sendirian. Disamping itu, beliau mengenal Zaid sangat dekat. Beliau percaya Zaid dapat menjaga rahasia, karena dia adalah orang yang ikhlas, jujur, dan amanah. Dan itulah yang ditampakkan Zaid tatkala beliau diserang dengan lemparan batu. Dia dengan berani melindungi Rasulullah dengan mnjadikan dirinya sebagai perisai beliau dari lemparan tersebut walaupun kepalanya harus cedera.
c.    Tatkala perlakuan para pemuka dan masyarakat Thaif sangat buruk kepada beliau. Beliau dengan sabar menanggunnya, tidaklah beliau marah atau mendendam, namun beliau hanya meminta agar mereka tidak menutupi semua kejadian ini. Inilah langkah kerahasiaan yang sangat optimal. Sebab jika sampai orang Quraisy mengetahui hal itu, tidak hanya mereka akan mencerca beliau, namun boleh jadi mereka akan semakin keras dalam melakukan penindasan dan tekanan, maka semakin terhalangilah semua gerakan beliau di dalam dan luar Makkah.[22]

Berserah diri dan berdoa kepada Allah
Sungguh, Bani Amr adalah orang-orang yang tercela, bukannya menutupi peristiwa itu, mereka malah membesar-besarkannya dengan melakukan aksi penyerangan kepada Rasul. Mereka melempari beliau hingga berdarah-darah. Hingga akhirnya beliau dan Zaid terpojok di perkebunan Atabah dan Syaibah. Keduanya adalah putra Rabi’ah yang sedang berada di dalam kebun tersebut. Lalu setelah melihat kondisi yang demikian, orang-orang Tsaqif yang semula mengejar beliau akhirnya kembali pulang. Lalu beliau bersandar di salah satu batang anggur. Di sana beliau dan anak angkatnya Zaid terduduk lemas, berusaha memulihkan tenaga dari apa yang baru saja keduanya rasakan, dan kedua putra Rabi’ah si pemilik kebun melihat kepada beliau dan Zaid. Keduanya pun menyaksikan dengan mata kepala apa yang diterima Rasulullah dari keburukan orang-orang Tsaqif. Maka dalam kondisi yang lemah dan tekanan psikis tersebut, beliau bermunajat kepada-Nya mengharap ridha-Nya semata.
Ya, Allah kepada-Mu aku mengadukan kelemahanku, kurangnya kesanggupanku, dan kerendahan diriku berhadapan dengan manusia. Wahai Dzat Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Engkaulah Peindung bagi si lemah dan Engkau jualah pelindungku! Kepada siapa diriku hendak Engkau serahkan? Kepada orang jauh yang berwajah suram terhadapku, ataukah kepada musuh yang akan menguasai diriku? Jika Engkau tidak murka kepadaku, maka semua itu tak kuhiraukan, karena sungguh besar nikmat yang telah Engkau limpahkan kepadaku. Aku berlindung pada sinar cahaya wajah-Mu, yang menerangi kegelapan dan mendatangkan kebajikan di dunia dan di akhirat dari murka-Mu yang hendak Engkau turunkan dan mempermasalahkan diriku. Engkau berkenan, sungguh tiada daya dan kekuatan apa pun selain atas perkenan-Mu”[23]

Pertemuan Addas dengan Nabi Muhamad SAW
Utbah dan Syaibah yang sedang berada di kebun itu selalu mengamati gerak-gerik Nabi dan Zaid. Keduanya pun mengetahui bahwa kedua orang itu tengah menderita karena tampak oleh mereka bahwa keduanya sedang terluka parah dan berlumuran darah. Timbullah rasa kasihan mereka terhadap dri Nabi dan Zaid. Mereka lalu menyuruh bujangnya bernama Addas supaya mengantar sepiring anggur kepada Nabi.
Addas adalah seorang pengikut agama Nasrani. Ketika ia mendapat perintah dari tuannya supaya mengantar sepiring anggur, ia segera mengambil buah dan diantarkannya kepada Nabi. Sebelum anggur itu diantar, Addas dipesan oleh tuannya bahwa apabila anggur itu telah sampai, Nabi segera dipersilakan memakannya. Pesan itu oleh Addas dipeerhatikan benar-benar. Setelah sampai kepada Nabi saw, Addas mempersilahkan beliau untuk segera memakanya. Sepiring anggur itu diterima Nabi saw dengan baik dan sebagian anggur itu diberikan kepada Zaid lalu mereka segera memakannya. Ketika hendak memakannya mereka membaca bismillah.
Addas selalu memperhatikan gerak-gerik Nabi saw. dari jauh, Utbah dan Syaibah memperhatikan juga. Sesudah Nabi dan Zaid memakan buah anggur tadi, Addas lalu bertanya kepada Nabi tentang kalimat yang dibaca oleh beliau ketika makan.
Beliau bertanya, “dari negeri apakah engkau wahai Addas? Dan apa agamamu?”  dia menjawab, aku seorang Nasrani dan aku adalah seorang yang berasal dari negeri Ninawa.”
Rasul bertanya lagi, “ apakah dari desa seorang lelaki yang shaleh bernama Yunus bin Mata?”
Addas menjawab, “ Apa yang engkau ketahui tentang Yunus bin Mata?”
Beliau bersabda, “Dia adalah saudaraku, dia seorang Nabi dan aku pun seorang Nabi.”
Lalu Addas langsung memeluk Rasulullah, mencium tangan dan kakinya. Melihat tingkah Addas, kedua putra Rabi’ah yang merupakan majikannya berkata antara satu dengan yang lainnya, “budakmu telah dirusak di hadapanmu.” Maka ketika Addas datang kembali kepada majikannya, keduanya berkata,”celakalah engkau wahai Addas, mengapa engkau tadi mencium kepada tangan dan kaki lelaki itu?”
Addas menjawab,”wahai tuanku, tidak ada di muka bumi ini yang lebih baik dari lelaki ini. Sungguh dia telah menyampaikan kepadaku tentang suatu perkara yang tak seorang pun mengetahuinya selain aku.”
Keduanya berkata, “celakalah engkau, jangan sampai dia membuatmu berpaling dari agamamu, sesungguhnya agamamu lebih baik daripada agamanya.” [24]

D.    Keteladanan terkait dengan kesabaran Nabi Muhammad SAW dalam peristiwa hijrah ke Thaif dan Habsyah
Nabi Muhammad Saw adalah seorang manusia yang mulia pilihan Allah SWT. Tak salah jika perkataan dan perbuatannya dijadikan sebagai teladan oleh umat Islam dalam kehidupan manusia. Sikapnya yang lembut dan tak pendendam menjadikan ciri suri tauladan yang dicontohkan beliau. Rasulullah juga selalu tenang dan tidak gegabah dalam menjalankan suatu misi atau peperangan untuk menyiarkan agama Islam.
Begitu juga ketika Rasulullah melakukan hijrah ke negeri Habsyah dan Thaif. Beberapa teladan yang dapat dipetik dalam peristiwa tersebut adalah diantaranya:
a. Tidak mengandalkan keajaiban di luar kemampuan manusia biasa. Apa yang dapat dilakukan diperhitungkan dengan matang.
b.Sabar dalam menghadapi setiap musuh yang menghadang beliau.
c. Tidak membalas kekerasan yang dilakukan oleh musuh.
d.                        Hijrah Rasulullah Saw dilakukan semata-mata hanya untuk menyiarkan agama Islam.
e. Tawakal selalu melekat dalam hatinya dalam menghadapi segala masalah.


BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Sikap kaum musyrikin yang semena-mena dan kejam terhadap kaum muslimin meyebabkan Rasulullah tak kuasa melihat kaumnya ditindas kaum Quraisy. Pemboikotan dan kekejaman yang dilakukan kaum Quraisylah faktor Rasulullah menyuruh kaumnya untuk hijrah ke Habasyah pada tahun ke-5 Kenabiannya. Dalam kondisi ini, turunlah sebuah ayat yang memerintahkan untuk melakukan hijrah sebab bumi Allah ini tidaklah sempit, ayat tersebut berbunyi :

قُلْ يَا عِبَادِ الَّذِينَ آمَنُوااتَّقُوا رَبَّكُمْۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗ وَأَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةٌ ۗ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Artinya :
Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu". Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.(Q.S Az-Zumar:10)
Pemboikotan yang dilakukan Rasulullah beserta kaum muslimin lain yang tidak ikut ke Habasyah mengalami kesengsaraan dan kepedihan. Mereka hanya memakan makanan seadanya dan berpakaian apa yang dikenakannya saja Di negeri Habasyah, kaum muslimin diperlakuan begitu baik dengan rajanya yaitu Raja Najasyi. Walaupun Raja Najasyi termasuk Nasrani, namun hatinya begitu lembut terhadap rakyatnya. Raja Najasyi tidak pernah melakukan kekerasan maupun pilih kasih terhadapnya rakyatnya. Oleh karena itu, kaum muslimin hidup begitu tenang dan damai untuk melakukan ibadah di negeri Habasyah.
Setelah mengalami beberapa kesengasaraan yang dilakukan kaum Quraisy, Rasulullah masih mengalami kepedihan yang lain yaitu dengan meninggalnya istri beliau Khadijah dan paman beliau Abu Thalib pada tahun ke-10 setelah Kenabiannya. Tahun inilah yang disebut tahun kesedihan. Untuk mengurangi kesedihannya, Rasulullah melakukan hijrah ke Thaif bersama anak angkatnya Zaid bin Haritsah. Selain itu beliau juga akan berdakwah di negeri subur tersebut yang diperebutkan pihak Quraisy untuk dikuasainya. Sesampainya di Thaif, Rasulullah dan Zaid disambut dengan cercaan, hinaan, makian bahkan dilempari batu oleh masyarakat Thaif. Mereka enggan menerima maksud kedatangan Rasulullah ke Thaif.

B.      Saran
Karena keterbatasan pengetahuan kami, hingga hanya inilah yang dapat kami sajikan, dan tentu saja masih sangat kurang dari sisi materinya, maka itu kami mengharapkan masukan baik itu kritik maupun saran dari pembaca demi melengkapi kekurangan tersebut.


DAFTAR PUSTAKA

al-Mubarakfury, Syaikh Shafiyyurrahman. 2010.Shahih Sirah Nabawiyah. Bandung : Jabal.
An-Nadwi, Abul Hasan ‘Ali Al-Hasani. 2015. Sirah Nabawiyah. Yogyakarta : Darul Manar.
Al-MubarakFuri,Syekh Safiyyurrahman. 1421 H/2001 M .Ar-Rahiq Al-Makhtum. Jakarta : Darus Salam.
Haekal, Muhammad Husain. 2014.Sejarah Hidup Muhammad. Jakarta : PT. Mitra Kertaya Indonesia.
Chalil, Moenawar. 2001. Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad SAW Jilid 2. Jakarta:Gema Insani.


[1]Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfury, Shahih Sirah Nabawiyah, Terj. Zaenal Mutaqin (Bandung : Jabal, 2010), hlm. 117.
[2]Ibid,. hlm. 118.
[3]Abul Hasan ‘Ali Al-Hasani An-Nadwi, Sirah Nabawiyah (Yogyakarta : Darul Manar, 2015), hlm. 138.
[4]Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfury, op. cit. 118.
[5]Syekh Safiyyurrahman Al-MubarakFuri,Ar-Rahiq Al-Makhtum ( Jakarta : Darus Salam, 1421 H/2001 M), hlm. 122.
[6] Ibid,.hlm.123.
[7] Ibid,.hlm.124.
[8] Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfury, op. cit. hlm. 119.
[9]Ibid,. hlm. 120.
[10]Abul Hasan ‘Ali Al-Hasani An-Nadwi, op. cit. hlm. 139.
[11]Muhammad Husain Haekal, Sejarah Hidup Muhammad, Terj. Ali Audah (Jakarta : PT. Mitra Kertaya Indonesia, 2014), hlm. 109.
[12]Abul Hasan ‘Ali Al-Hasani An-Nadwi, op. cit. hlm.140.
[13]Ibid,. hlm. 141.
[14]Muhammad Husain Haekal, op.cit. hlm. 110.
[15]Ibid,. hlm. 111.
[16]Abul Hasan ‘Ali al-Hasani an-Nadwi, op.cit. hlm. 143.
[17]Ibid,. hlm. 146.
[18]Ibid,. hlm. 147.
[19]Moenawar Chalil, Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad SAW Jilid 2 (Jakarta:Gema Insani, 2001).hlm. 46.
[20]Syarh Al-Asqalani li Shahih Al-Bukhari, kitab Al-Kafalah (4/373).
[21]Ushul Al-Fikr As-Siyasi, hlm. 175.
[22]Jawanib Al-Hadzr wa Al-Himayah, As-Sirah An-Nabawiyyah, hlm. 109-110.
[23]Dr.Umari, kitabnya As-Sirah An-Nabawiyyah Ash-Shahihah (1/186).
[24]Shahih As-Sirah An-Nabawiyah, 136-137.